Selasa, 17 April 2012

Tata Penulisan Paragraf yang Baik


Tata Penulisan Paragraf yang Baik


Oleh :

Nuraida Lestari (1111040006)
Rahmawati (1111040010)


A.     Pengertian Paragraf
Paragraf disebut juga alinea. Paragraf adalah seperangkat kalimat yang tersusun secara logis dan sistematis  yang mengandung satu kesatuan ide pokok. Disamping itu, secara teknis paragraf merupakan satuan terkecil dari sebuah kalangan. Bisaanya paragraf itu terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan baik isi maupun bentuknya. Isi kalimat-kalimat pembangun paragraf itu membentuk satuan pikiran sebagai bagian dari pesan yang disampaikan penulis dalam karangannya. Paragraf atau alinea tidak dapat dipisah-pisahkan seperti sekarang, tetapi disambung menjadi satu. Menurut Lamuddin Finoza, paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan gabungan beberapa kalimat, sedangkan dalam bin_redaksi.blogspot.com/diakses 20 Agustus2008/pengertian-paragraf-alinea- bagian, paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru.
Paragraf dapat dijelaskan sebagai bagian dari suatu karangan atau tuturan yang terdiri atas sejumlah kalimat yang mengungkapkan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya.


B.      Struktur dan Jenis Paragraf
Paragraf disusun berdasarkan dua hal, yaitu 1) berdasarkan berbagai kemungkinan kelengkapan unsur paragraf; dan 2) berdasarkan kemungkinan posisi unsur paragraf dalam paragraf. Kelengkapan unsur paragraf nmenyangkut apa saja yang ada dalam suatu paragraf.
a.    Struktur Paragraf
Berdasarkan berbagai kemungkinan kelengkapan unsur dan posisinya dalam paragraf, struktur paragraf antara lain dapat berbentuk sebagai berikut :
Ø  Unsur paragraf lengkap, dengan susunan : transisi – kalimat topik - kalimat pengembang - kalimat penegas.
Ø  Paragraf hanya memiliki tiga unsur : kalimat topik - kalimat pengembang -kalimat penegas.
Ø  Sama dengan tiga unsur, tetapi komposisinya : transisi - kalimat topic - kalimat pengembang
Ø  Paragraf memiliki dua unsur : kalimat topic - kalimat pengembang
Ø  Sama dua unsur dengan komposisi : kalimat pengembang - kalimat topik

b.    Jenis Paragraf
Ada beberapa jenis paragraf yang kita kenal, yang dibagi ke dalam bentuk berdasarkan jenisnya yaitu :
a.    Berdasarkan letak kalimat utamanya
Berdasarkan letak kalimat utamanya paragraf dibedakan menjadi dua yaitu:
v  Paragraf Induktif : adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di bagian akhir.
Contoh:
Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan tanahnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika panen di desa ini selalu gagal.
v  Paragraf Deduktif : adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di bagian awal.
Contoh:
Penghematan energi dapat dilakukan dengan cara menghemat pemakaian listrik. Cara penghematan tersebut dapat dilakukan dengan mengatur pemakaian. Misalnya, menyalakan lampu hanya pada ruang tertentu, artinya jika ruang tersebut tidak dipakai listrik dapat dipadamkan. Menyeterika cukup tiga hari sekali. Begitu pula menyalakan pompa air cukup dua kali sehari.

b.    Berdasarkan isinya
v  Narasi : adalah paragraf yang isinya menceritakan suatu hal/ kejadian. Karena bersifat menceritakan, maka biasanya disusun secara kronologis (berdasarkan urutan waktu).
Contoh :
Pada hari Minggu saya bersama keluarga pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Sehabis sholat subuh kami mulai berkemas-kemas. Ibu membuat nasi goreng istimewa untuk sarapan pagi. Kira-kira jam tujuh pagi kami sekeluarga berjumlah delapan orang berangkat dari rumah kami di Tanjung Duren. Di sepanjang perjalanan, adik kami Rita, dan Dhimas tak henti-hentinya bernyanyi dan bercanda ria. Setelah menjelajahi berbagai anjungan yang ada, kami sekeluarga semakin terkesan dengan panorama miniatur nusantara ini.
v  Deskripsi : adalah paragraf yang isinya melukiskan sesuatu berdasarkan pengamatan panca indera sehingga pembaca seolah-olah merasa melihat, mendengar, dan merasakannya sendiri tentang suatu tempat, kejadian, dan peristiwa yang dimaksud oleh penulisnya.
Contoh:
Sisa gerimis sore tadi masih menyisakan butiran-butiran mutiara kecil di ranting-ranting kurus bunga-bunga angsoka. Lembayung senja masih membiaskan cahaya tipis yang melontarkan warna-warni jingga, manakala menerpa butiran-butiran sisa gerimis. Danau Kintamani yang terpancang di punggung Bukit Batur itu seolah merupakan suaka alam bagi suku Trunyan yang memang rentan terhadap modernisasi. Sementara di sana-sini beberapa anak kecil menjajakan cindera mata, membantu mengais rejeki untuk tambahan beaya sekolah mereka.
v  Eksposisi : adalah paragraf yang isinya menjelaskan tentang sesuatu sehingga pembaca yang tadinya tidak tahu menjadi tahu tentang sesuatu. Jadi paragraf ini sifatnya informatif.
Contoh:
Jalak Bali merupakan satwa eksotis yang keberadaannya sangat dilindungi. Jenis burung yang hampir punah ini sekarang sudah berhasil dikembang-biakkan. Dengan ijin dari Departemen Pertanian, seorang peternak dari Solo bisa membudidayakan bahkan sampai ribuan ekor. Keberhasilan ini diikuti oleh puluhan bahkan ratusan penangkar lain dari seantero tanah air. Dengan demikian keberadaan satwa ini sudah tidak mengkhawatirkan lagi. Dan kabar baiknya bagi pecinta burung, jalak bali sekarang sudah bisa dikomersiilkan lagi.
v  Argumentasi : adalah paragraf yang isinya berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan yang diungkapkan oleh penulisnya. Cara meyakinkan ini biasanya dilengkapi dengan data, fakta, contoh yang konkret serta pola penalaran yang rasional.
Contoh:
Rokok sangat merugikan kesehatan. Kebiasaan buruk ini ternyata bisa meracuni diri sendiri, keluarga, dan orang lain di sekitarnya. Selain racun nikotin, tar, dan mono oksida masih ada ribuan zat berbahaya yang terkandung dalam rokok. Tak heran bila ada penelitian yang menyimpulkan bahwa satu batang rokok akan mengurangi satu menit nyawa pengisapnya. Itulah maka Pemerintah Daerah DKI memberlakukan Perda larangan merokok di tempat umum.
v  Persuasi : adalah paragraf yang isinya berusaha membujuk pembaca sehingga melakukan sesuatu seperti yang dikehendaki penulisnya. Semua iklan dan poster pastilah bersifat persuasif.
Contoh:
Jakarta sangat rawan terhadap peredaran narkoba. Kota metropolitan yang kian sumpek ini makin dijejali dengan masalah sosial antara lain peredaran narkoba. Baik shabu-shabu, putau, ekstasi, atau yang lainnya sangat merusak generasi suatu bangsa. Orang jadi lupa diri, penuh dengan kecemasan, malas, dan tidak mampu berpikir logis. Anda tidak ingin menjadi korban, jangan coba-coba mendekatinya.


C.     Unsur-unsur Paragraf
Paragraf merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang terdiri atas seperangkat kalimat yang digunakan oleh pengarang sebagai alat untuk menyatakan dan menyampaikan jalan pikiran kepada pembaca. Agar jalan pikiran tersebut dapat diterima dengan baik dan jelas, paragraf harus disusun secara sistematis dan logis. Unsur-unsur paragraf yang dimaksud yaitu :
1.        Transisi
Transisi merupakan mata rantai penghubung antarparagraf yang berfungdsi sebagai penghubung jalan pikiran dua paragraf yang berdekatan. Kata-kata transisional merupakan petunjuk bagi pembaca ke arah mana pikiran pengarang bergerak atau mengingatkan pembaca apakah suatu paragraf baru searah dengan paragraf sebelumnya. Di sisi lain transisi juga berfungsi sebagai penunjang koherensi dan kepaduan antarbab, antaranak bab, dan antarpragraf dalam satu karangan.
Kalimat transisi tak selalu harus ada dalam setiap karangan. Kehadirannya bila dirasa perlu demi kejelasan informasi. Selain itu, kalimat transisi tidak hanya terdapat dalam paragraf, melainkan bisa juga muncul dalam kalimat, antarparagraf, antaranak bab, dan antarbab.
Ada dua cara untuk menghubungkan dua paragraf, yaitu
1. cara implisit
2. cara eksplisit.

Hubungan implisit tidak ditandai oleh alat penanda transisi tertentu, namun hubungan antarparagraf masih dapat dirasakan. Sedangkan hubungan eksplisit dinyatakan oleh penanda transisi tertentu, seperti kata, kelompok kata, dan kalimat.

2.        Kalimat Topik
Kalimat topik merupakan mayor point, main idea, central idea, atau topic sentence. Kalimat topik merupakan pikiran utama, pokok pikiran, ide pokok, atau kalimat pokok. Kalimat topik merupakan perwujudan ide pokok paragraf dalam bentuk umum atau abstrak. Letak kalimat topik dapat di awal paragraf, tengah paragraf, dan akhir paragraf.

3.        Kalimat Pengembang
Sebagian besar kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf adalah kalimat pengembang. Susunannya tidak sembarangan. Urutan kalimat pengembang sebagai perluasan pemaparan ide pokok yang bersifat abstrak menuruti hakikat ide pokok. Pengembangan kalimat topik yang bersifat kronologis biasanya menyangkut hubungan antara benda atau kejadian. Urutannya masa lalu-kini-dan masa yang akan datang.
Bila pengembangan kalimat topik berhubungan dengan jarak (spasial), biasanya menyangkut hubungan antara benda, peristiwa, atau hal dengan ukuran jarak. Urutannya dimulai dari jarak yang paling dekat-lebih jauh-jauh- dan paling jauh. Bila pengembangan kalimat topik berhubungan dengan sebab-akibat, kemungkinan urutannya sebab dinyatakan lebih dahulu, kemudian diikuti akibatnya, atau sebaliknya. Penyusunan urutan kalimat pengembang yang berdasarkan urutan nomornya dimulai dari kejadian pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

4.        Kalimat Penegas
Kalimat penegas merupakan elemen paragraf yang berfungsi
1.      sebagai pengulang atau penegas kembali kalimat topik
2.      sebagai daya penarik bagi para pembaca atau sebagai selingan menghilangkan kejemuan.
Kedudukan kalimat penegas tidaklah bersifat mutlak. Ia ada bila pengarang memerlukan untuk menunjang kejelasan informasi.

Keempat unsur tersebut kadang muncul atau bersama-sama atau sebagian sehingga memberikan alternatif sebagai berikut :
1.      Paragraf memiliki empat unsur (transisi-kalimat topik-kalimat pengembang-kalimat penegas)
2.      Paragraf memiliki tiga unsur (transisi-kalimat topik-kalimat pengembang; kalimat topik-kalimat pengembang-kalimat penegas)
3.      Paragraf memiliki dua unsur (kalimat topik-kalimat penegas).


D.     Fungsi Paragraf
Ada beberapa fuugsi paragraph yyang harus diketahui yaitu :
a.       Menampung fragmen pikiran atau ide pokok
b.      Alat untuk memudahkan pembaca memahami jalan pikiran pengarang
c.       Alat bagi pengarang untuk mengembangkan gagagasan atau jalan pikiran secara sistematis
d.      Pedoman bagi pembaca untuik mengikuti dan memahami alur pikiran pengarang
e.       Alat untuk menyampaikan fragmen pikiran atau ide pokok pengarang kepada pembaca
f.       Sebagai penanda bahwa pikiran baru dimulai
g.      Dalam keseluruhan karangan, paragraf dapat berfungsi sebagai pengatar, transisi, dan penutup.


E.      Syarat Penulisan Paragraf yang baik
Dalam penulisan bahan ajar, paragraf dapat dikategorikan sebagai paragraph yang baik jika memenuhi lima kriteria. Kelima kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1.        Adanya Satu Kesatuan Gagasan
Sebagai satu kesatuan gagasan, sebuah paragraf yang baik hendaknya mengandung satu gagasan utama. Artinya, dalam paragraf mungkin terdapat beberapa gagasan tambahan, tetapi gagasan-gagasan itu harus terfokus pada satu gagasan utama sebagai pengendali. Jika prinsip ini dipenuhi, paragraf itu telah memenuhi ciri kesatuan. Kesatuan dalam sebuah paragraf hanya akan terbentuk apabila informasi-informasi dalam paragraf itu tetap dikendalikan oleh gagasan utama. Agar hal itu dapat dicapai, penulis harus senantiasa mengevaluasi apakah kalimat-kalimat yang ditulisnya itu erat hubungannya dengan gagasan utama. Jika ternyata tidak erat hubungannya, kalimat-kalimat itu harus dihilangkan atau disajikan secara khusus, misalnya menjadi sisipan dalam kalimat lain. Perhatikan paragraf berikut.
“Permasalahan birokrasi Indonesia memang sangat berat dan lamban, sehingga menjadi tidak efektif dan efisien dalam melayani dan mengakomodasi kepentingan rakyat. Birokrasi Indonesia tidak bisa memobilisasi gerakan transformasi pembangunan masyarakat secara cepat, untuk kemandirian negara. Hal ini merupakan akibat dari sistem birokrasi yang panjang dan besar, sehingga dalam pelaksanaannya memakan biaya tinggi. Dengan begitu kecenderungan birokrasi Indonesia hanya melayani diri sendiri dan mengabaikan tugas utama, yaitu pelayanan masyarakat. Nampaknya birokrasi Indonesia hanya menumpukan tenaga improduktif dan menjadi beban bagi negara, tanpa memiliki produktivitas yang menguntungkan negara.”
Dalam paragraf tersebut dikemukakan tentang satu gagasan pokok yaitu Permasalahan birokrasi Indonesia memang sangat berat dan lamban, sehningga menjadi tidak efektif dan efisien dalam melayani dan mengakomodasi kepentingan rakyat. Gagasan pokok ini dijelaskan dengan beberapa gagasan penunjang berikut ini :
1.      Birokrasi Indonesia tidak bisa memobilisasi gerakan transformasi pembangunan masyarakat secara cepat, untuk kemandirian negara.
2.      Hal ini merupakan akibat dari sistem birokrasi yang panjang dan besar, sehingga dalam pelaksanaannya memakan biaya tinggi.
3.      Dengan begitu kecenderungan birokrasi Indonesia hanya melayani diri sendiri dan mengabaikan tugas utama, yaitu pelayanan masyarakat.
4.      Nampaknya birokrasi Indonesia hanya menumpukan tenaga improduktif dan menjadi beban bagi negara, tanpa memiliki produktivitas yang menguntungkan negara.

2.        Adanya Kepaduan Hubungan Antarkalimat
Paragraf dapat dikatakan baik tidak saja karena gagasan utamanya tunggal, tetapi juga kalimat-kalimat di dalam sebuah paragraf itu terjalin secara logis dan gramatikal. Dengan demikian, kalimat-kalimat di dalam sebuah paragraf itu terpadu berkaitan satu sama lain untuk mendukung gagasan utama. Dengan kaitan seperti itu, pembaca akan dapat mengikuti maksud penulis setapak demi setapak dengan perpindahan dari satu kalimat ke kalimat berikutnya secara enak tanpa ada lompatan-lompatan pikiran. Boleh jadi sebuah paragraf sudah memenuhi syarat kesatuan, tetapi belum dapat disebut sebagai suatu paragraf yang baik apabila belum memenuhi syarat kepaduan ini.
Untuk membangun kepaduan paragraf dapat digunakan kata kunci dan sinonim, pronomina, kata transisi, dan struktur yang paralel.
1.    Kata Kunci dan Sinonim
Kepaduan paragraf dapat dibangun dengan tidak mengulang kata atau ungkapan yang sama setiap kali diperlukan. Kata atau ungkapan yang sama itu sesekali dapat disebut kembali dengan menggunakan kata kuncinya atau dengan menggunakan kata lain yang bersinonim dengan kata atau ungkapan itu. Virus HIV, misalnya, sesekali dapat disebut virus itu, virus penyebab AIDS, virus yang mematikan, atau virus yang sulit ditaklukkan. Oleh beberapa ahli cara itu disebut penyulihan.
2.    Pronomina
Membangun kepaduan juga dapat ditempuh dengan menggunakan pronomina untuk menyebut nomina atau frasa nominal yang telah disebutkan lebih dahulu. Yang dilakukan sebenarnya adalah mengacu pada nomina atau frasa nomina itu dengan pronominanya. Frasa pengusaha-pengusaha yang sukses selain sesekali dapat disebut dengan pengusaha-pengusaha itu, dapat pula disebut mereka, misalnya. Cara seperti ini juga disebut pengacuan.
3.    Kata Transisi
Kata transisi adalah konjungtor atau perangkai, baik yang digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur dalam sebuat kalimat maupun untuk  menghubungkan kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf. Melalui penggunaan kata-kata ini, hubungan antara satu gagasan dan gagasan yang lain dalam sebuah paragraf dapat dinyatakan secara tegas. Kalimat-kalimatnya mungkin sama, tetapi kata transisi tertentu dan susunan tertentu akan mengubah informasi atau gagasan yang ditampilkan.
4.    Struktur yang Paralel
Keparalelan struktur kalimat dapat pula membangun ciri kepaduan kalimat-kalimat di dalam sebuah paragraf. Banyak cara yang dapat digunakan untuk membangun keparalelan struktur ini, antara lain menggunakan bentuk kata kerja yang sama atau menggunakan majas repetisi.

Perhatikan contoh berikut.
Contoh 1
“Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi rawan pangan di Indonesia.  Di antaranya upaya yang telah dilakukan adalah mendistribusikan beras seharga Rp1000,00 per kg. untuk kualitas medium. Setiap kepala keluarga mendapat jatah 10 kg. per bulan. Upaya lain adalah membentuk tim pemantau ketahanan pangan untu operasi pasar khusus, mendorong ABRI manuggal pertama, dan sebagainya. Upaya itu perlu didukung oleh semua pihak agar masalah yang memprinhatinkan tersebut dapat teratasi.”

            Contoh 2
Meister Eickhar adalah mistikus dan cendekiawan terkemuka dari Ordo Dominican. Dia lahir di Hochheim di Thuringia, Jerman, pada tahun 1260 M dan wafat pada tahun 1327 M. Ajaran mistiknya mirip dengan Dante, sastrawan dan mistikus Italia abad ke-13 M. Seperti halnya Dante, Eickhar menggabungkan pengalaman mistik dengan kekuatan intelektual. Dia juga dipandang sebagai peletak dasar filsafat dan mistisisme Jerman.. Sebagai rohaniawan terkemuka pada umumnya, dia memiliki banyak pengikut dan murid.

3.        Adanya Ketuntasan Informasi
Paragraf yang baik adalah paragraf yang tuntas. Artinya, di dalam paragraf itu telah tercakup semua yang diperlukan untuk mendukung gagasan utama. Ini berarti pula bahwa paragraf yang baik harus telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga pembaca tidak bertanya-tanya tentang maksud penulis dalam paragraf itu.
Seberapa jauh ketuntasan pengembangan paragraf itu? Sayang tidak ada rumusan yang jelas mengenai hal itu. Bisa jadi sebuah paragraf amat panjang, tetapi belum tuntas. Bisa jadi pula paragraf itu cukup pendek, tetapi sudah tuntas. Yang penting adalah bahwa setelah membaca paragraf itu, pembaca mendapat informasi yang lengkap tentang isi paragraf itu. Ingatlah bahwa yang penting di dalam paragraf adalah adanya gagasan utama yang biasanya dinyatakan dalam kalimat topik.
4.        Adanya Konsistensi Sudut Pandang
Dalam karang mengarang, konsistensi sudut pandang itu sangat penting artinya. Seorang penulis harus menentukan lebih dahulu sudut pandangnya terhadap calom pembaca agar ia dapat memilih gaya penulisan yang tepat. Paragraf yang baik hendaknya mempertahankan sudut pandang penulis dalam membahas permasalahan yang diutarakannya. Jika sudah dipastikan bahwa pembaca tidak dilibatkan secara eksplisit sebagai mitra tutur, pilihan itu harus dipertahankan sampai akhir karangan. Demikian pula sebaliknya.
5.        Adanya Keruntutan Penyajian
Urutan penyajian informasi dalam paragraf yang baik mengikuti tata urutan tertentu. Ada beberapa model urutan penyajian informasi dalam paragraf dan tiap-tiap model mempunyai kelebihan masing-masing. Model-model urutan itu adalah urutan waktu, urutan tempat, urutan umum-khusus, urutan khusus-umum, urutan pertanyaan-jawaban, dan urutan sebab-akibat. Setiap model urutan akan dibicarakan secara rinci dalam bagian yang membicarakan jenis-jenis dan pengembangan paragraf. Untuk menjelaskan prinsip keruntutan ini, pada bagian ini dicontohkan dua macam keruntutan saja, yaitu keruntutan atas urutan tempat dan keruntutan atas urutan waktu.
Yang disebut prinsip keruntutan pada dasarnya adalah menyajikan informasi secara urut, tidak melompat-lompat sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran penulis. Untuk paragraf itu yang menggunakan model urutan tempat, misalnya, hendaklah informasi tentang objek itu disajikan secara horizontal, seolah-olah pandangan mata penulis bergerak dari arah kiri ke kanan, atau sebaliknya atau bisa juga secara vertikal dari bawah keatas atau sebaliknya. Yang penting adalah bahwa informasi disajikan secara berurut berdasarkan dimensi ruang.


F.       Tehnik Penulisan Paragraf
Setiap jenis paragraf tidak terlepas dari tautannya dalam sebuah karangan. Bagaimana menulis dan merangkai paragraf tersebut secara baik dan benar, sehingga menjadi karangan yang saling berkesinambungan dalam mewujudkan paragraf yang menjadi satu kesatuan. Sehingga pembaca mudah memahami apa yang disajikan penulis dalam mengemukakan gagasan yang disampaikan. Dan karangan tersebut tidak pendek, melainkan karangan tersebut tidak berboros kata dan tidak mengulang–ulang butir ide yang sama serta tidak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan.
Dibawah ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sistem penulisan paragraph :
a. Hendaknya menentukan terlebih dahulu ide pokok sebelum menulis paragraf apabila tidak membuat rencana terlebih dahulu, maka paragraf tidak sempurna.
b. Menguraikan ide pokok dengan kalimat penjelas yang akan dikembangkan dalam penulisan paragraf.
c. Mengembangkan paragraf dengan menggunakan teknik pengembangan paragraf sehingga tercipta sebuah paragraf yang baik.
d. Memilih kata atau penyeleksian kata yang akan dibuat dalam penulisan paragraf dalam karya ilmiah.
Ketepatan dalam menyampaikan pengetahuan kepada pembaca sangat diperlukan. Sehingga dapat membentuk koherensi yang saling kait antar kalimat dalam paragraf dan antar paragraf, agar tidak sampai ada kata yang tidak jelas rujukannya. Untuk menjadikan karangan yang benar–benar berbobot, harus diterapkan pula pengembangan yang benar-benar memadai. Setiap karangan mencakup unsur yang pokok berupa gagasan, komunikasi, tatanan, dan bahasa sebagai medium penyampaian dalam mengemukakan sebuah karangan.


DOWNLOAD DISINI

Senin, 16 April 2012

Tekhnik Pengembangan Paragraf


TEKHNIK PENGEMBANGAN
PARAGRAF


OLEH:
KASRIANI (1111040036)
SYAHRIANI  (1111040035)


Dalam penulisan bahan ajar paragraf  dapat dikembangkan dengan berbagai cara. Cara atau teknik  bergantung pada keluasan pandangan atau pengalaman penulis dan juga materi yang ditulis itu sendiri. Meskipun demikian, paling tidak dapat disebutkan adanya beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan paragraf. Cara-cara yang dimaksud, antara lain:
1.      Pengembangan dengan klasifikasi
Pengembangan dengan klasifikasi yang dimaksud dalam hal ini adalah pengembangan paragraf dengan cara mengklasifikasikan atau mengelompokkan masalah yang dikemukakan. Dengan klasifikasi itu diharapkan pembaca dapat lebih mudah memahami informasi yang disajikan.
Kata-kata ungkapan yang lazim digunakan yaitu dibagi menjadi, digolongkan menjadi, terbagi menjadi, dan mengklasifikasikan.

Sebagai contoh:
Responden dalam penelitian ini selain dikelompokkan berdasarkan jenis kelaminnya, yaitu laki-laki dan perempuan, juga dikelompokkan berdasarkan usianya, yaitu di bawah 40 tahun. Pengelompokan ini dimaksudkan untuk mengetahui unsur kelompok mana ynag lebih dominan menilai bahwa pekerjaan pemeriksaan itu sangat penting untuk mendukung pemerintahan yang bersih.

2.      Pengembangan dengan definisi
Pengembangan dengan definisi adalah suatu model pengembangan paragraf  yang dilakukan dengan cara memberikan definisi atau pengertian terhadap masalah yang sedang dibahas. Kata-kata ungkapan yang lazim digunakan dalam pengembangan paragraf secara definisi yaitu adalah, yaitu, ialah, dan merupakan.
Contohnya dapat diperhatikan pada paragraf berikut.
Informasi ialah suatu pengertian tentang kenyataan, kejadian, atau gagasan yang di ekspresikan dengan menggunakan lambang-lambang yang telah diketahui atau disepakati bersama. Ungkapan “lambang-lambang yang telah diketahui dan disepakati bersama ” yang dimaksud dalam hal ini adalah bahasa.

3.      Pengembangan dengan analogi
Analogi adalah suatu bentuk perbandingan dengan cara menyamakan dua hal yang berbeda. Sejalan dengan itu, pengembangan dengan analogi merupakan model pengembangan paragraf yang dilakukan dengan cara membandingkan dua hal yang berbeda untuk memperjelas gagasan yang akan diungkapkan. Dalam pergaulan sehari-hari,misalnya orang yang sudah beusia lanjut sering dikatakan sudah (berusia) senja. Dalam hal ini perbandingan antara usia lanjut dan (waktu) senja merupakan sebuah analogi.
Kata-kata yang lazim digunakan dalam pengembangan paragraf ini yaitu ibaratnya, seperti, dan bagaikan.
Analogi yang dimanfaatkan sebagai cara pengembangan paragraf, misalnya dapat diperhatikan pada contoh berikut.

Salam pembuka dalam surat-menyurat merupakan suatu bentuk tata krama penulis surat sebelum ia mulai berkomunikasi dengan penerima surat. Hal itu dapat diibaratkan sebagai ketukan pintu jika seseorang akan memasuki rumah orang lain. Baik salam pembuka maupun ketukan pintu, keduanya sama-sama merupakan tanda hormat sebelum sesorang mulai berkomunikasi dengan orang lain, apakah komunikasi itu dilakukan di dalam surat ataukah dilakukan di dalam rumah.

            Sehubungan dengan pengembangan paragraf, cara analogi lazimnya digunakan untuk memperjelas gagasan yang belum begitu dikenal oleh masyaarakat melalui gagasan atau perbandingan dengan hal yang sudah sangat dikenal.

4.      Pengembangan dengan contoh
Pengembangan dengan contoh merupakan suatu tekhnik pengembangan paragraf yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa contoh sebagai penjelas gagasan yang dikemukakan. Pengembangan paragraf dengan menyertakan contoh lebih tepat digunakan dalam menjelaskan masalah yang sifatnya abstrak atau masalah lain yang sifatnya sangat umum. Ungkapan yang lazim dgunakan yaitu seperti, misalnya, contohnya, dll.

Sebagai gambaran, perhatikan contoh paragraf berikut.
Pembangunan PLTN mulai bermunculan sejak dekade 1960-an. Di Amerika, misalnya, pembangunan PLTN-nya dimulai sekitar 1960. Kemudian, Jerman yang membangun fasilitas itu tahun 1961, dan India serta Asia mulai membangun sejak 1968. Sejak itu, pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi kian meluas.

5.      Pengembangan dengan fakta
Pengembangan dengan fakta merupakan suatu tekhnik  pengembangan paragraf yag dilakukan dengan cara menyertakan sejumlah fakta atau bukti-bukti untuk memperkuat pendapat yang dikemukakan. Contoh di bawah ini memperlihatkan paragraf yang dikembangkan dengan cara tersebut.
Para petani di daerah itu umumnya sangat rajin. Setiap pagi ketika beberapa pegawai kantor sedang berangkat kerja, para petani itu sudah bermandikan keringat di sawah-ladangnya masing-masing. Mereka bekerja sejak fajar hingga matahari terbenam.

6.      Pengembangan Paragraf dengan Perbandingan
Dalam jenis pengembangan ini dipaparkan semua persamaan dan atau perbedaan tentang dua atau lebih objek/gagasan. Paragraf berikut merupakan paragraf yang dikembangkan dengan perbandingan. Kata-kata ungkapan yang lazim digunakan dalam pengembangan dengan cara perbandingan yaitu seperti, serupa dengan, seperti halnya, demikian juga, sama dengan, sejalan dengan, akan tetapi, sedangkan dan sementara itu.
Contoh :
Hidup jangan seperti lalat yang suka makan barang-barang busuk, akan tetapi hiduplah seperti lebah yang hanya makan sari bunga yang wangi dan manis yang memberikan banyak keuntungan bagi makhluk lain

7.      Pengembangan paragraf sebab akibat
Pengembangan paragraf yang pengembangannya memanfaatkan makna hubungan sebab akibat antar kalimat. Ciri khas paragraf ini ialah terbinanya hubungan sebab akibat antara kalimat yang satu dengan kalimat yang berkesinambungan. Kata-kata ungkapan yang lazim digunakan dalam pengembangan dengan cara sebab akibat yaitu padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena.
Contoh:
            Pariwisata itu ada karena adanya wisatawan. Wisatawan itu adalah orang yang diburu oleh keinginan untuk melihat atau menikmati peristiwa keanehan, keagungan, serta keindahan sebanyak mungkin dengan biaya yang serendah mungkin dan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Maka pengusaha yang dibingkai atau dikondisikan dengan psikologi yang seperti itu menciptakan prasarana dan sarana untuk memuaskan tuntutan atau kehendak tersebut. Hotel-hotel, perusahaan, penerbangan, perusahaan taxi, restoran, dan night clubs di package, digiring oleh pengusaha untuk menyongsong sikap yang demikian.
download file disini