Selasa, 29 Mei 2012

Langkah-langkah Penelitian



Langkah-langkah Penelitian

 Oleh: 
Muhammad Amin Bahar

1111040005
A.  Definisi penelitian
Ada beberapa definisi penelitian yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain :
1.      Penelitian adalah investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu    proposisi hipotesis mengenai hubungan tertentu antar fenomena (Kerlinger, 1989: 17-18).
2.      Penelitian merupakan refleksi dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-fakta atau fenomena alam. Perhatian atau pengamatan awal terhadap fakta atau fenomena merupakan awal dari kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau masalah (Indriantoro dan Supomo, 1999: 16).
3.      Penelitian pada dasarnya merupakan penelitian yang sistematis dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Indriantoro dan Supomo, 1999: 16).

B.  Persyaratan Penelitian
Tanpa adanya penelitian, pengetahuan tidak akan bertambah maju padahal pengetahuan adalah dasar semua tindakan dan usaha. Jadi penelitian sebagai dasar untuk meningkatkan pengetahuan, harus diadakan agar mengingat pula pencapaian usaha-usaha manusia.
Ada tiga persyaratan penting dalam mengadakan kegiatan penelitian ( Suharsimi Arikunto, 2006: 20) yaitu :
1.      Sistematis
Artinya dilaksanakan menurut pola tertentu, dari yang paling sederhana sampai kompleks sehingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
2.    Berencana
Artinya dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan dan sebelumnya sudah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaan.
3.    Mengikuti konsep ilmiah
Artinya mulai awal sampai akhir kegiatan penelitian mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Tahap-tahap dalam proses penelitian itu teratur secara sistematis. Kita tidak boleh langsung melakukan tahap tertentu sebelum melewati tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi tahap tersebut. Penelitian selalu dikendalikan oleh hipotesis-hipotesis sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Langkah-langkah penelitian yang diajukan dalam buku menurut Suharsimi Arikunto (2006: 21-26) yaitu :
1.      Memilih masalah
Masalah penelitian adalah segala sesuatu yang bertentangan atau berbeda antara keinginan dengan kenyataan yang dihadapai. Dalam batasan yang sederhana, masalah bisa diartikan sebagai berikut :
a.       Sesuatu yang belum diketahui (karena sifat kebaruannya) dan menimbulkan rasa ingin tahu.
b.      Segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya.
c.       Segala sesuatu yang dipertanyakan.
d.      Segala bentuk hambatan, rintangan, atau kesulitan yang muncul pada sesuatu bidang yang perlu dihindari atau disingkirkan.
Besar maupun kecil, sedikit maupun banyak, setiap orang mesti memiliki masalah. Hanya bedanya, ada masalah yang seketika diatasi, tetapi ada pula yang memerlukan penelitian. Akan tetapi, ada masalah penelitian yang juga tidak dapat dipecahkan melalui penelitian karena berbagai sebab, antara lain karena tidak tersedia datanya.
Memilih masalah bukanlah pekerjaan yang terlalu mudah terutama bagi orang-orang yang belum banyak berpengalaman meneliti. Untuk ini diperlukan kepekaan dari calon peneliti. Apabila sudah berpengalaman meneliti, masalah-masalah ini akan timbul dalam bentuk keinginan untuk segera dilaksanakan pemenuhannya. Memilih masalah untuk diteliti karena tidak adanya panduan yang baku. Sekalipun demikian dengan latihan dan kepekaan ilmiah, pemilihan masalah yang tepat dapat dilakukan.
Bagaimana peneliti mencari masalah yang akan dikaji, beberapa panduan pokok di bawah ini akan mempermudah bagi kita menemukan masalah:
a.       Masalah sebaiknya merumuskan setidak-tidaknya hubungan antar dua variable atau lebih
b.      Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda dan pada umumnya   diformulasikan dalam bentuk kalimat tanya.
c.       Masalah harus dapat diuji dengan menggunakan metode empiris, yaitu dimungkinkan adanya  pengumpulan data yang akan digunakan sebagai bahan untuk menjawab masalah yang sedang dikaji.
d.      Masalah tidak boleh merepresentasikan masalah posisi moral dan etika.

2.      Studi pendahuluan
            Studi pendahuluan merupakan salah satu langkah yang dilaksanakan jika kita menginginkan dan melihat variabel, populasi atau sampel yang ingin diteliti dengan asumsi data yang ada belum memenuhi untuk kepentingan penelitian.
Walaupun sudah diperoleh suatu masalah untuk diteliti, sebelum mengadakan penelitian yang sesungguhnya, peneliti mengadakan suatu studi pendahuluan, yaitu menjajaki kemungkinan diteruskannya pekerjaan penelitian. Prof.Dr.Winarno Surachmad, menyebutkan sebagai studi eksploratori. Studi pendahuluan dimaksudkan untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti agar masalah menjadi lebih jelas kedudukannya.
Alasan Melakukan studi pendahuluan
a.       Melihat proporsi kasus yang akan di teliti.
b.      Menentukan besar sampel penelitian
c.       Melakukan uji validitas instrumen
d.      Melakukan uji reliabilitas instrumen jika intstumen dalam bentuk kuesioner.
e.       Menentukan populasi sasaran
f.       Studi pendahuluan untuk uji coba kuesioner
g.      Studi pendahuluan untuk menentukan besar sampel
Langkah Studi pendahuluan untuk uji coba kuesioner
a.       Menyusun pertanyaan-pertanyaan
b.      Memilih populasi sasaran.

3.      Merumuskan masalah
Apabila telah diperoleh informasi yang cukup dari studi pendahuluan atau studi eksploritas, maka masalahnya yang akan diteliti menjadi jelas. Agar penelitian dapat dilaksanakan sebaik-baiknya, maka peneliti harus merumuskan masalah sehingga jelas dari mana harus mulai, kemana harus pergi dan dengan menggunakan apa.
Rumusan masalah yang merupakan pertanyaan-pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya. Terdapat beberapa cara dalam merumuskan masalah, antara lain:
a.       rumusan masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan;
b.      rumusan masalah jelas dan padat;
c.       rumusan masalah berisikan implikasi adanya data untuk memecahkan masalah; dan
d.      rumusan masalah merupakan dasar dalam membuat hipotesa.
Senada dengan pendapat tersebut di atas Nazir (1988: 143) mengungkapkan bahwa:
  1. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
  2. Rumusan masalah hendaknya jelas, dan padat
  3. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah
  4. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesa
  5. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian
Lebih lanjut lagi Nazir (1988: 144-145) mengemukakan bahwa terdapat dua cara dalam memformulasikan masalah. Pertama, dengan cara menurunkan masalah dari teori yang telah ada. Dan kedua, mengadakan observasi secara langsung di lapangan. Setelah masalah tersebut diformulasikan maka langkah selanjutnya adalah membuat tujuan penelitian. Tujuan penelitian merupakan suatu pernyataan tentang apa yang ingin dicari atau yang indin ditentukan. Tujuan penelitian di sini haruslah dinyatakan secara lebih spesifik daripada perumusan masalah. Jika masalah merupakan konsep yang masih abstrak, maka tujuan penelitian haruslah lebih kongkrit.
4.      Merumuskan anggapan dasar dan hipotesis
Anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam pelaksanaan penelitian. Anggapan dasar merupakan  pikiran yang memungkinkan kita mengadakan penelitian tentang permasalahan.
Dalam hal ini peneliti harus dapat memberikan sederetan asumsi yang kuat tentang kedudukan permasalahan yang sedang diteliti. Asumsi yang harus diberikan tersebut, diberi nama asumsi dasar atau anggapan dasar. Anggapan dasar ini merupakan landasan teori di dalam pelaporan hasil penelitian nanti.
Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad M.Sc.Ed. Anggapan dasar atau postulat merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik, dimana setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. Seorang penyelidik yang mungkin meragukan sesuatu anggapan dasar yang oleh orang lain diterima sebagai suatu kebenaran.
Dalam melakukan penelitian anggapan – anggapan dasar perlu di-rumuskan secara jelas sebelum melangkah mengumpulkan data. Anggapan- anggapan semacam inilah yang disebut sebagai anggapan dasar, postulat atau asumsi dasar.
Peneliti perlu merumuskan anggapan dasar :
a.       Agar ada dasar berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti
b.      Untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatian
c.       Guna menentukan dan merumuskan hipotesis

Hipotesis merupakan kebenaran sementara yang ditentukan oleh peneliti, tetapi harus dibuktikan atau diuji kebenarannya. Hipotesis bisa disusun bertolak pada pengalaman, pengamatan, dan dugaan atau dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya, maupun dari teori-teori yang sudah terbentuk. Penyusunan hipotesis, diharapkan bisa memberikan arah tujuan yang tegas bagi penelitian yaitu berupa arah pemilihan informasi atau fakta-fakta yang relevan yang perlu dikumpulkan. Dengan kata lain, bisa menghindarkan dari pengumpulan data yang tak ada hubungannya dengan masalah penelitian.
Hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti adalah ia tidak boleh mempunyai keinginan kuat agar hipotesisnya terbukti dengan cara mengumpulkan data yang hanya bisa membantu memenuhi keinginannya atau memanipulasi data sehingga mengarah pada keterbuktian hipotesis. Penelitian harus bersikap objektif terhadap data yang terkumpul. Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan, peneliti dapat bersikap dua hal :
a.          Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti ( pada akhir penelitian ).
b.         Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda – tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis ( pada saat penelitian berlangsung ).

5.      Memilih Pendekatan
Memilih Pendekatan  adalah metode atau cara mengadakan penelitian seperti halnya eksperimen atau non eksperimen. Tetapi disamping itu juga menunjukan jenis atau tipe penelitian yang diambil, dipandang dari segi tujuan misalnya eksploratif, deskriptif atau histories. Masih ada lagi pandangan dari subjek penelitiannya, misalnya populasi atau kasus.
Ada beberapa alternative pendekatan yang dapat di ambil oleh penelitian alam membuktikan hipotesis yang telah di rumuskan .jenis pendekatan ini dapat di tinjau dari segi tehnik sampling timbulnya variabel (eksperimen non-eksperimen beserta desain-desainya) dan model pertumbuhan pemihan pendekatan ini tergantaung dari tujuan penelitian waktu dan dana yang tersedia ,tersedianya subjek penelitian serta minat dan selera penliti.
Studi survei adalah salah satu pendekatan penelitian yang pada umumnya di gunakan untk pengumpulan data yang luas dan banyak. Van Dalen mengatakan bahwa survey merupakan bagian dari studideskrirtif yang bertujuan untuk mencari kedudukan (status)fnomena (gejalah) dan menentukan kesamaan status. Dengn cara membandingkanya dengan standar yang sudah di tentukan yang termaksud studi survey.



6.      Menentukan variabel dan sumber data
Langkah ini menjawab pertanyaan yaitu apa yang akan diteliti dan darimana data diperoleh. Kedua langkah ini dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Begitu peneliti menyebutkan satu macam apa yang akan diteliti, seyogianya langsung menentukan dari mana data untuk variabel tersebut akan diperoleh. Variabel adalah gejalah yang bervariasi yang menjadi objek penelitian variabel di bedakan atas kuantitatif dan kualitatif variabel kualintitatif diklasifikasikan atas:
a.       variabel distrit
b.      variabel kontinum (ordinal,interval,dan ratio).
Pemisahan ini sangat penting untuk menentukan tehnik analisis datanya, karena jenis variabel menentukan jenis data: Dalam penelitian yang dipelajari pengaruh sesuatu treatment, terdapat variabel penyebab (X) atau variabel bebas (independenvariable) dan variabel akibat (Y) atau variabel terikat, tergantung atau dependen variabel. Selanjutnya variabel dapat luas dan dapat pula sempit (tunggal) seorang peneliti dituntut untuk mampu menjabarkan variabel penelitian karena banyak dan sempitnya sub-variabel akan menentukan hipotesis, aspek dalam istrumaen  banyak ragam data yang dikumpulkan, selanjutnya akan mencerminkan.halus kasarnya atau luas sempitnya kesimpulan.
Sumber data adalah subjek penelitian dimana data menempel. Sumber data berupa benda, gerak, manusia, tempat dan sebagainya. Di tinjau dari wilayah sumber data, maka dibedakan adanya 3 jenis penelitian: yaitu penelitian populasi, penelitian sample, dan penelitian kasus. Hasil penelitian populasi berlaku bagi populasi hasil penelitian sample berlaku bagi populasi, sedang hasil penelitian kasus hanya berlaku bagi kasus itu sendiri.
Oleh karena hasil penelitian sample berlaku bagi populasi, maka sample yang diambil harus representative, yaitu mewakili populasi, dalam arti semua ciri-ciri atau karateristik yang ada pada populasi tercermin pada sample. Mengingat kepentingan ini maka pengambilan sample harus mengikuti teknik pengambilan sample,yang juga di sebut teknik sampling meliputi:
1. radom samling (undian,ordinal menggunakan table bilangan random;
2. stratified sampling;
3. area probaliti samling;
4. propotional sampling (dikombinasikan dengan stratified/area probabilitisampling;
5. pu posive sampling;
6. Quata sampling;
7. double sampling.


7.      Menentukan dan menyusun instrumen penelitian
Setelah peneliti mengetahui dengan pasti apa yang akan diteliti dan dari mana data bisa diperoleh, maka langkah yang segera diambil adalah menentukan dengan apa data akan dikumpulkan. Instrumen ini sangat tergantung dari jenis data dan dari mana diperoleh.
            Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data, sedangkan istrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data itu. Metode pengumpulan data: tes, angket atau kueasionel, observasi wawancara, skala bertingkat, deklu mentasi. Istrumen penelitian :angket, tes, skala bertingkat, pedoman wawancara,pedoman observasi,check-list.
Penentuan metode pengumpulan data ditentukan oleh variabel, sample, lokasi pelaksana, biaya, dan waktu. Agar dalam meneliti diperoleh kesimpulan yang benar.maka data harus bener-benar .untuk itu di perlukan instrument yang baik ,yakni valid dan reliable. Maka pengadaanya harus melalui prosedur, pelaksanaan, penilisan item, penyuntikan, uji coba dan revisi.
Instrumen penelitian adalah alat atau perangkat penelitian yang berungsi untuk membantu proses perolehan data bahan penelitian, mencatat atau merekam hasil perolehan, maupun untuk membantu proses pengolahan dan analisa data.
Pada era informasi, dengan telah memasyarakatnya Teknologi Informasi, sebagian besar  atau hampir semua Instrumen penelitian selalu berbasis komputer, termasuk jaringan komunikasi, dan, multimedia. Barangkali dikarenakan mereka mampu menghasilkan bukti yang lebih akurat, lebih praktis, proses yang lebih cepat, operasi yang lebih mudah, dan tentu saja beaya yang lebih murah. Berbeda dengan perangkat yang berfungsi sebagai obyek sumber data yang tinggal memilih dari perangkat-perangkat yang sudah tersedia, instrumen penelitian ini adalah perangkat yang harus dirancang dan didesain khusus sesuai dengan kebutuhan, sehingga unjuk kerjanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
8.      Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah pekerjaan yang sukar, karena apabila diperoleh data yang salah, tentu saja kesimpulannya pun salah pula, dan hasil penelitiannya menjadi palsu. Mengamati bukanlah sekadar atau mempehatikan benda. Kejadian atau pengamatan lewat mata menggunakan teknik interviuw tes atau kuesioner, juga digolongkan sebagai pengamatan, jadi pengumpulan data adalah mengamatan variabel yang akan diteliti dengan metode interviuw, tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya.
Dengan metode apapun, pengumpulan data harus dilatih terlebih dahulu agar di peroleh data yang sesuai dengan harapan, yang penting bagi peneliti adalah bahwa metode tersebut dilaksanakan secara objek tidah dipengaruhi oleh keinginan pengamatan. Secara umum maka latihan mengadakan pungumpulan data baik kuesioner, interviuw, maupun observasi dilaksanakan dalam dua tahap:
a.       tahap pertama: memahami dan mempelajari instrument dan memahami bagaimana menggunakannya.
b.      Tahap kedua: latiahan atau praktek dengan mencoba melakukanya.

9.      Analisis Data
Tugas menganalisis data tidak seberat mengumpulkan data, baik tenaga maupun pertanggungjawaban. Akan tetapi menganalisis data pertumbuhan ketekunan dan pengertian terhadap jenis data, jenis data akan menuntut teknik analisis data.
Langkah –langkah dalam analisis data adalah:
1.      Persiapan : mengecek nama, isian, macam data.
2.      Tabulasi : memberi skor, memberi kode, mengubah jenis data, coding dalam coding form.
3.      Penetapan data sesuai dengan pendekatan.

Dalam analisis data terdapat 3 jenis penelitian :

a.       Penelitian deskripsi   :   pesentase dan komparansi dengan kriteria yang telah ditentukan
b.      Penelitian komparasi :   dengan berbagai teknik korelasi sesuai dengan jenis data.
c.       penelitian eksperimen:  di uji hasilnya dengan test.

10.  Menarik Kesimpulan
Langkah ini sebenarnya sudah merupakan langkah terakhir dari kegiatan penelitian. Pekerjaan meneliti telah selesai, dan peneliti tinggal mengambil konklusi dari hasil pengolahan data dicocokan dengan hipotesis yang telah dirumuskan. Sesuaikan data yang dikumpulkan dengan hipotesis atau dugaan peneliti sebelumnya.
Kesimpulan penelitian harus dibuat berdasarkan data yang diperoleh dan harus sinkron dengan problematik dan hipotesis. Kesimpulan yang dibuat atau dari penalitian non-statistik didasarkan atas kriteria atau standar yang telah ditentukan, sedangkan kesimpulan yang diambil dari penelitian statistic untuk menganalisis datanya, didasarkan atas harga kritis yang terletak didalam tabel. Untuk berkonsultasi dengan tabel maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
a.       besarnya taraf signifikasi (t.s 5% atau t.s 1%),
b.      derajat kebebasan (tergantung dari teknik analisis yang digunakan
c.       perumusan satu satu arah atau dua arah (tergantung).







11.  Menulis Laporan
Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun, ditulis serta prosedurnya pun diketahui orang lain pula sehingga dapat mengecek kebenaran pekerjaan penelitian tersebut. Membuat laporan penelitian merupakan langkah terakhir dari serentetan kegiatan penelitian. Laporan penelitian sangat penting artinya bagi kemajuan ilmu pengetahuan karena orang menjadi tahu apa yang telah dilakukan orang. Untuk dapat dipahami pembaca, maka penulis laporan harus mengikuti aturan dan format yang umum. Lebih baik lagi dan saat ini lazim dibuat sebelum bab 1 disajikan abstrak atau ringkasan dari kerja peneliti.
Berbeda dengan Sudjana (1991) yang  menyebutkan lima langkah penelitian.
1.         Konseptualiasasi masalah penelitian sehingga jelas rumusan masalahnya, jelas ruang lingkupnya dan jelas batasan konsep dan batasan operasional.
Konsep dibutuhkan dalam penelitian untuk memahami dan mengkomunikasikan informasi mengenai suatu objek. Konsep adalah sekumpulan arti atau karakteristisk yang berhubungan dengan kejadian, objek, kondisi, atau situasi tersebut (Emory dan Cooper). Menurut Rusidi (1997), konsep adalah istilah singkat untuk menyatakan (abstraksi) realita atau fenomena. Di dalam konsep terkandung batasan-batasan arti (definisi) dari penamaan golongan, kategori dan klasifikasi. Jika konsep ini ditelaah sampai mendasar maka akan sampai pada istilah variabel.
Keberhasilan penelitian tergantung pada (1) seberapa jelas kita melakukan konseptualisasi dan (2) seberapa jelas pihak lain memahami konsep yang kita gunakan. Misalkan, kita akan melakukan survai mengenai penghasilan para profesional muda dengan kuisoner. Penelitian tidak akan berhasil kalau konsep penghasilan yang kita maksud tidak jelas atau tidak dimengerti oleh reponden, misalnya tidak jelas apakah penghasilan per bulan, apakah gaji tetap saja atau termasuk pendapatan sampingan, pendapatan bersih atau kotor, dan sebagainya. Selain itu, konsep profesional muda juga harus didefisniskan dengan jelas atau eksplisit sehingga pihak lain mempuntai persepsi dan konsepsi yang sama dengan pihak peneliti. Permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai kesenjangan antara fakta dengan harapan, antara tren perkembangan dengan keinginan pengembangan, antara kenyataan dengan ide.
Telah dikatakan sebelumnya bahwa untuk melakukan penelitian itu berawal dari sebuah masalah yang harus dicari jalan keluarnya, masalah tersebut membutuhkan sebuah penelitian untuk menemukan jawabannya. Tetapi, jawaban sebuah masalah yang ada harus berdasarkan fakta yang ada, kemudian penelitian tersebut dilakukan secara logis dan empiris. Adanya jawaban dari sebuah masalah didapatkan melalui penelitian dengan langkah-langkah tertentu. langkah-langkah penelitian tersebut antara lain :


v  Identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah
v  Penelaahan kepustakaan
v  Penyusunan hipotesis
v  Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variabel-variabel
v   Pemilihan atau pengembangan alat-alat pengambilan data
v  Penyusunan rancangan penelitian
v  Penentuan sampel
v  Pengumpulan data
v  Pemecahan dan analisis data
v  Interpretasi hasil analisis
v   Penyusunan laporan
                                            
Langkah-langkah penelitian di atas harus dilakukan secara berurutan atau runtut, agar mudah dalam memecahkan masalahnya. Karena apabila terdapat kesalahan dalam salah satu langka-langkah penelitian di atas, maka dapat mudah dilihat langkah apa yang harus diperbaiki dan apa penyebab kesalahan tersebut.

2.      Berpikir rasional dan mengkaji teori, postulat yang berkenaan dengan masalah penelitian untuk mengajukan hipotesisi penelitian.

Berfikir rasional adalah berfikir menggunakan nalar atas dasar data yang ada untuk mencari kebenaran faktual, kegunaan dan derajat kepentingannya.
Berfikir rasional dipakai bila kita ingin maju, ingin mempelajari ilmu. Juga amat perlu bila kita bekerja untuk kepentingan orang banyak, masalah publik, dimana berhadapan dengan bermacam macam orang, tradisi dan kepercayaan, maka kita bakal punya alasan obyektif yang bisa ditunjukkan kepada orang banyak (transparansi), punya alat bukti, punya referensi, bisa diperdebatkan (argumentasi yang logik dan relevan) serta bisa dibandingkan karena punya alat ukur. Hal hal yang emosional tidaklah demikian. Berfikir rasional lawannya adalah berfikir emosional.
Berfikir emosional berguna untuk mendapat rasa senang. Bahagia dan kepuasan pribadi, yang didasari selera. Tolok ukur selera berbeda pada setiap orang, sesuai tingkat senang dan tidak senangnya seseorang, itu artinya tidak universal. Berfikir emosional menjadi dasar ikatan-ikatan emosional, dan tindakan tindakan emosional. Tetapi sukar dimengerti orang lain. Disini tidak perlu ada fakta atau sesuai fakta, atau pembuktian, cukup dugaan, simbol, atau rekayasa atau fantasi yang keluar dari rasa senang tidak senang, suka tidak suka, benci, sayang, penghormatan, percaya, kagum, respect, persahabatan, kekeluargaan dll. Misalnya si A bisa begitu cinta (=emosional) kepada seseorang atau suatu ajaran tetapi orang lain tidak habis pikir mengapa dia bisa begitu tergila gila dengan orang itu atau ajaran itu.
Cara berfikir spiritual, yang keluar dari keinginan tahu, kagum, juga sangat penting untuk menimbulkan inspirasi, motive dll. Berfikir spiritual, filosofis merupakan kegiatan awal, untuk dijabarkan lebih lanjut melalui pola fikir rasional maupun emosional. Hanya saja bila motive dan rencana itu berhubungan dengan kepentingan publik atau akan dijalankan diranah publik maka perlu pertimbangan lain yang rasional. (Berfikir spiritual dalam pembicaraan disini, saya jadikan satu dengan yang emosional, karena sama sama tidak harus ada data faktual atau pembuktian).

3.      Pengumpulan data di lapangan untuk keperluan pemecahan masalah penelitian.

Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif (sebagaimana telah dibahas pada materi sebelumnya). Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hasil penelitian demikian sangat berbahaya, lebih-lebih jika dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk mengambil kebijakan publik.

Misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang dipakai ialah wawancara, bukan observasi. Sedangkan jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Begitu juga jika, ingin diketahui mengenai kompetensi siswa dalam matapelajaran tertentu, maka teknik yang dipakai adalah tes, atau bisa juga dokumen berupa hasil ujian. Dengan demikian, informasi yang ingin diperoleh menentukan jenis teknik yang dipakai (materials determine a means). Itu pun masih ditambah dengan kecakapan peneliti menggunakan teknik-teknik tersebut. Bisa saja terjadi karena belum berpegalaman atau belum memiliki pengetahuan yang memadai, peneliti tidak berhasil menggali informasi yang dalam, sebagaimana karakteristik data dalam penelitian kualitatif, karena kurang cakap menggunakan teknik tersebut, walaupun teknik yang dipilih sudah tepat. Solusinya terus belajar dan membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sejenis akan sangat membantu menambah kecakapan peneliti.

Penggunaan istilah ‘data’ sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kuantitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, di dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau fokus penelitian.
Di dalam metode penelitian kualitatif, lazimnya data dikumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu; 1). wawancara, 2). observasi, 3). dokumentasi, dan 4). diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting  yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian fokus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, mana yang harus kedua-duanya dilakukan, dst. Pilihan teknik sangat tergantung pada jenis informasi yang diperoleh.

4.      Analisis data dan menguji hipotesis.
Pekerjaan paling berat yang dilakukan peneliti setelah data terkumpul adalah analisis data. Analisis data merupakan bagian sangat penting dalam penelitian, karena dari analisis ini akan diperoleh temuan, baik temuan substantif maupun formal. Selain itu, analisis data kualitatif sangat sulit karena tidak ada pedoman baku, tidak berproses secara linier, dan tidak ada aturan-aturan yang sistematis.
Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga diperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Melalui serangkaian aktivitas tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan bertumpuk-tumpuk bisa disederhanakan untuk akhirnya bisa  dipahami dengan mudah.
Hipotesis merupakan jawaban sementara atas masalah peneliti yang secara rasional dideduksi dari teori.  Tujuan pengujian hipotesis adalah untuk menentukan apakah jawaban teoritis yang terkandung dalam pernyataan hipotesis didukung oleh fakta yang dikumpulkan dan dianalisis dalam proses pengujian data.
Dalam pengujian hipotesis beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

1.       Estimasi dan Probabilitas
Pengujian hipotesis dengan menggunakan data sampel merupakan pembuatan keputusan melalui proses inferensi yang memerlukat akurasi peneliti dalam melakukan estimasi.  Proses inferensi dapat dilakukan melalui estimasi nilai parameter populasi atau membuat keputusan mengenai nilai parameter.
2.      Kriteria Keputusan
            Kriteria Keputusan bisa dilihat dari tingkat signifikasi yaitu tingkat probabilitas yang ditentukan oleh peneliti untuk membuat keputusan menolak atau mendukung hipotesis.  Tingkat keyakinan adalah tingkat probabilitas yang ditetapkan oleh peneliti bahwa statistik sampel dapat mengestimasi parameter populasi secara akurat.  Tingkat signifikasi menunjukkan probabilitas kesalahan yang dibuat peneliti untuk menolak atau mendukung hipotesis.
            Tingkat signifikansi 0,05 artinya adalah keputusan menolak atau mendukung suatu hipotesis mempunyai probabilitas kesalahan sebesar lima persen        
3.      Hipotesis Nol dan Hipotesis Alternatif. 
            Hipotesis nol adalah hipotesis yang menyatakan status Quo tujuannya adalah memberikan kemungkinan adanya perbedaan ekspektasi peneliti dengan fenomena yang terjadi.
Hipotesa alternative menunjukkan ekspektasi peneliti terhadap fenomena yang terjadi atau dugaan sementara peneliti terhadap fenomena yang terjadi.
4.      Kesalahan tipe satu dan kesalahan tipe II
                a.     Kesalahan Tipe I

            Kesalahan peneliti karena menolak hipotesa nol padahal hipotesa nol adalah benar.     Contohnya: menghukum orang yang tidak bersalah.  Kesalahan tipe I diberi symbol alpha: 
b.      Kesalahan tipe II

            Keputusan peneliti mendukung hipotesa nol padahal hipotesa nol adalah salah.  Contohnya: melepaskan orang yang bersalah.  Kesalahan tipe II diberi symbol beta: 
            Kesalahan tipe I dan II dapat dikurangi dengan menambah jumlah sample.  kesalaha tipe I lebih serius dibandingkan dengan kesalah tipe II.  Oleh karena itu keputusan yang digunakan peneliti dalam pengujian hipotesis lebih ditekankan pada penetapan tingkat signifikansi daripada beta.

5.      Kesimpulan penelitian
Kesimpulan berasal dari fakta-fakta atau hubungan yang logis. Pada umumnya kesimpulan terdiri atas kesimpulan utama dan kesimpulan tambahan. Kesimpulan utama adalah yang berhubungan langsung dengan permasalahan. Dengan demikian, kesimpulan utama harus bertalian dengan pokok permasalahan dan dilengkapi oleh bukti-bukti.

Pada kesimpulan tambahan, penulis tidak mengaitkan pada kesimpulan utama, tetapi tetap menunjukkan fakta-fakta yang mendasarinya. Dengan sendirinya, penulis tidak dibenarkan menarik kesimpulan yang merupakan hal-hal baru, lebih-lebih jika dilakukan pada kesimpulan utama. Jika penulis bermaksud menyertakan data atau informasi baru maka hendaknya dikonsentrasikan pada bab-bab uraian dan bukannya pada kesimpulan.

Berikan kesimpulan dari hipotesa. Nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh. Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan beberapa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.

Pada tulisan ilmiah dari hasil penelitian yang memerlukan hipotesis, maka pada kesimpulan utamanya harus dijelaskan apakah hipotesis yang diajukan memperlihatkan kebenaran atau tidak. Kesimpulan utama pada tulisan ilmiah dari hasil penelitian yang memerlukan hipotesis tidaklah sedetil kesimpulan yang terdapat pada bab analisis.

Sebaliknya, pada tulisan ilmiah dari hasil penelitian yang tidak memerlukan hipotesis, maka kesimpulan merupakan uraian tentang jawaban penulis atas pertanyaan yang diajukan pada bab pendahuluan.





Adapun langkah-langkah dalam menyusun kesimpulan :
1.      Penulis menguraikan garis besar permasalahan dankemudian memberi ringkasan tentang segala sesuatu yang telah diuraikan pada bab-babsebelumnya.
2.      Penulis harus menghubungkan setiap kelompok data dengan permasalahan untuk sampai pada kesimpulan tertentu.
3.      Dalam menyusun kesimpulan adalah menjelaskan mengenai arti dan akibat-akibat tertentu dari kesimpulan-kesimpulan itu secara teoritik maupun praktis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar