Selasa, 03 April 2012

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH


MATERI
PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH

OLEH : 
SYAMSINAR AWALIAH (1111040009)
NURFITASARI  (1111040008)


            Bahasa Indonesia sebagaimana bahasa pada umumnya, digunakan untuk tujuan tertentu dan konteks ini akan menentukan ragam Bahasa Indonesia yang harus digunakan. Seseorang yang menggunakan Bahasa Indonesia dalam orasi politik, misalnya, akan menggunakan ragam yang berbeda dari orang lain yang menggunakannya untuk menyampaikan khotbah Jum’at atau bahan kuliah. Mahasiswa disadarkan bahwa dalam dunia akademik/ilmiah, ragam bahasa Indonesia yang digunakan adalah ragam ilmiah, yang memiliki ciri khas: cendekia, lugas dan jelas, menghindari kalimat fragmentaris, bertolak dari gagasan, formal dan objektif, ringkas dan padat, dan konsisten. Mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran yang mendukung tumbuhnya pemahaman mereka terhadap pengertian Bahasa Indonesia ragam ilmiah.
            Bahasa Indonesia ragam ilmiah merupakan salah satu bahasa Indonesia yang digunakan dalam menulis karya ilmiah. Kegiatan ilmiah biasanya bersifat resmi. Sebagai kegiatan yang bersifat resmi, ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ragam bahasa Indonesia baku.
            Bahasa Indonesia ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuh isyarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat dan sistematis.
Bahasa Indonesia ilmiah merupakan bahasa yang digunakan dalam menulis karya ilmiah. Mengapa misalkan bahasa Indonesia ini digunakan dalam karya ilmiah. Hal itu dikarenakan bahwa :
Karya ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Meskipun demikian, dalam karya ilmiah, aspek komunikasi tetap memegang peranan utama. Oleh karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif tetap harus dipikirkan. Penulisan karya ilmiah bukan hanya untuk mengekspresikan pikiran tetapi untuk menyampaikan hasil penelitian. Kita harus dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan. Dapat pula, kita menumbangkan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian kita. Jadi, sebuah karya ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya.
Meski sama-sama baku, tetapi ada perbedaan dalam penggunaan bahasa Indonesia baku untuk kegiatan kenegaran dengan untuk kegiatan ilmiah. Dalam kegiatan ilmiah, penggunaan bahasa Indonesia yang baku harus sesuai dengan sifat keilmuan yang meliputi: benar, logis cermat dan sistematis. Selain itu, menurut Nazar (2004: 8), penggunaan bahasa Indonesia dalam kegiatan ilmiah, baik apakah itu dalam bentuk tulis maupun lisan, yang juga harus diperhatikan adalah kelengkapan, kecermatan, dan kejelasan pengungkapan ide. Ini dilakukan untuk menghindari terjadinya salah tafsir dalam kegiatan ilmiah.
Persyaratan bagi sebuah tulisan untuk dianggap sebagai karya ilmiah adalah sebagai berikut (Brotowidjojo, 1988: 15-16).
1.        Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hokum alam pada situasi spesifik.
2.        Karya ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulisan ilmiah, yakni penyebutan rujukan dan kutipan yang jelas.
3.        Karya ilmiah disusun secara sistematis, setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual, dan prosedural.
4.        Karya ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5.        Karya ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.
6.        Karya ilmiah ditulis secara tulus. Hal itu berarti bahwa karya ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, tidak bersifat ambisius dan berprasangka. Penyajiannya tidak boleh bersifat emotif.
7.        Karya ilmiah pada dasarnya bersifat ekspositoris. Jika pada akhirnya timbul kesan argumentatif dan persuasif, hal itu ditimbulkan oleh penyusunan kerangka karangan yang cermat. Dengan demikian, fakta dan hokum alam yang diterapkan pada situasi spesifik itu dibiarkan berbicara sendiri. Pembaca dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran dan keyakinan akan kebenaran karya ilmiah tersebut.

Bahasa Indonesia ragam ilmiah memiliki karakteristik sebagai berikut :

1.        Cendekia
Bahasa Indonesia ragam ilmiah bersifat cendekia. Artinya, bahasa ilmiah itu mampu digunakan secara tepat untuk mengungkapkan hasil berpikir logis. Bahasa yang cendekia mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima secara tepat oleh pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Karena itu, apabila sebuah kalimat digunakan untuk mengungkapkan dua buah gagasan yang memiliki hubungan kausalitas, dua gagasan beserta hubungannya itu harus tampak secara jelas dalam kalimat yang mewadahinya.
Perhatikan  contoh kalimat cendekia di bawah ini!
(1)          Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengaruh budaya barat yang masuk ke negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan  nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia.
(2)          Pada era globalisasi informasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama karena pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia.
Contoh kalimat (2) di atas secara jelas mampu menunjukkan hubungan kausalitas, tetapi hal itu tidak terungkap secara jelas pada contoh (1). Kecendekiaan bahasa juga tampak pada ketepatan dan keseksamaan penggunaan kata. Karena  itu, bentukan kata yang dipilih harus disesuaikan dengan  muatan isi pesan yang akan disampaikan.
(3)                    (4)
pemaparan       paparan
pembuatan        buatan
pembahasan     bahasan
pemerian          perian
Kata-kata pada contoh (3) menggambarkan suatu proses, sedangkan contoh (4) menggambarkan suatu hasil. Dalam pemakaian bahasa ilmiah, penggunaan kedua jenis bentukan kata tersebut perlu dilakukan secara cermat. Kalau paparan itu mengacu pada proses, kata-kata yang cocok adalah kata-kata pada contoh (3), tetapi kalau paparan itu mengacu pada hasil, kata·kata yang cocok adalah kata-kata pada contoh (4).
(5)          Karena sulit, maka pengambilan data dilakukan secara tidak langsung. Menurut para ahli psikologi bahwa korteks adalah pusat otak yang paling rumit.
(6)          Karena sulit, pengambilan data dilakukan secara tidak langsung. Menurut para ahli psikologi korteks adalah pusat otak yang paling rumit.
Kecendekiaan juga berhubungan dengan kecermatan memilih kata. Suatu kata dipilih secara cermat apabila kata itu tidak mubazir, tidak rancu, dan bersifat idiomatis. Pilihan kata maka dan bahwa pada contoh (5) termasuk mubazir. Oleh sebab itu, kata tersebut perlu dihilangkan sebagaimana contoh(6).
(7)          Meskipun sudah diuraikan, namun paparannya belum jelas .
Meskipun sudah diuraikan, papararnya belum  jelas .
Paparannya sudah diuraikan, namun belum  jelas.
(8)          Mulai sejak penentuan masalah penelitian  itu tidak jelas arahnya.
Mulaipenentuan  masalah, penelitian  itu tidak jelas  arahnya.
Sejak penentuan  masalah, penelitian itu tidak jelas  arahnya.
Kerancuan pilihan kata dalam artikel  ilmiah perlu  dihindari. Kerancuan  pilihan kata pada umumnya terjadi karena  dua struktur kalimat yang digabung menjadi  satu. Untuk membetulkannya perlu  dikembalikan pada struktur asal. Pilihan kata meskipun dan namun serta  mulai dan sejak pada contoh (7) rancu. Untuk itu, perlu dikembalikan pada struktur asal sebagaimana contoh (8).
(9)          Peneliti  terdiri orang-orang yang mewakili lembaga.
Hubungan rumusan masalah dengan simpulan tidak cocok.
(10)      Peneliti  terdiri atas orang·orang yang mewakili lembaga.
Hubungan rumusan masalah dan simpulan tidak cocok.
Kata-kata yang barsifat idiomatis perlu dipilih secara cermat. Pilihan kata idiomatis yang tidak cermat tampak pada contoh (9) terdiri dan dengan. Pilihan kata yang cermat tampak pada contoh (10).
2.      Lugas dan Jelas
Sifat lugas dan jelas dimaknai bahwa bahasa Indonesia mampu menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat. Untuk itu, setiap gagasan diungkapkan secara langsung sehingga makna yang ditimbulkan adalah makna lugas. Pemaparan bahasa Indonesia yang lugas akan menghindari kesalahpahaman dan kesalahan menafsirkan isi kalimat. Penulisan yang bernada sastra pun perlu dihindari. Gagasan akan mudah dipahami apabila dituangkan dalam bahasa yang jelas dan hubungan antara gagasan yang satu dengan yang lain juga jelas. Kalimat yang tidak jelas umumnya akan muncul pada kalimat yang sangat panjang.
Perhatikan  contoh kalimat lugas di bawah ini!
(1)          Para pendidik  yang kadangkala atau bahkan sering kena getahnya oleh  ulah sebagian, anak-anak mempunyai  tugas yang tidak bisa dikatakan ringan.
(2)          Para pendidik  yang kadang-kadang atau bahkan sering  terkena  akibat ulah sebagian anak-anak mempunyai  tugas yang berat.
Kalimat (1) bermakna  tidak lugas. Hal itu tampak pada pilihan kata kena getahnya dan tidak bisa dikatakan ringan.Kedua ungkapan itu tidak mampu mengungkapkan gagasan secara lugas.Kedua ungkapan itu dapat diganti terkena akibat dan berat yang memiliki makna langsung, separti kalimat (2).
Perhatikan  contoh kalimat jelas berikut!
(3)          Penanaman  moral di sekolah  sebenarnya  merupakan kelanjutan dari penanaman moral di rumah yang dilakukan melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Paneasila yang merupakan mata pelajaran paling strategis karena langsung menyangkut tentang moral Paneasila, juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran Agama, IPS, Sejarah, PSPB, dan Kesenian.
(4)          Penanaman moral di sekolah sebenarnya  merupakan kelanjutan dari penanaman  moral di rumah. Penanaman  moral di Sekolah  dilaksanakan melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Paneasila yang merupakan mata pelajaran paling strategis karena langsung menyangkut tentang moral Paneasila. Di samping itu, penanaman moral Pancasila juga diintegrasikan ke dalam mata pelajararan-mata pelajaran Agama, IPS, Sejarah, PSPB, dan Kesenian.
Contoh (3) tidak mampu mengungkapkan gagasan secara jelas, antara lain karena kalimat terlalu panjang. Kalimat yang panjang itu manyebabkan kaburnya hubungan antargagasan yang disampaikan. Hal itu berbeda dengan  contoh (4), kalimat-kalimatnya pendek sehingga mampu mengungkapkan gagasan secara jelas. Ini tidak berarti bahwa dalam menulis artikel ilmiah tidak dibenarkan membuat kalimat panjang.Kalimat panjang boleh digunakan asalkan penulis cermat dalam menyusun kalimat sehingga hubungan antargagasan dapat diikuti secara jelas.
Untuk membentuk kalimat yang memiliki gagasan yang jelas  diperlukan kiat khusus. Gagasan yang akan dituangkan ditata secara sistematis. Dengan  tataan itu dapat ditentukan apakah sebuah gagasan dituangkan dalam sebuah kalimat atau dalam sejumlah kalimat. Jika gagasan itu cukup dituangkan dalam sebuah kalimat, tidak perlu gagasan itu dituangkan dalam sejumlah kalimat.Sebaliknya, apabila sebuah gagasan tidak cukup diungkap dalam sebuah kalimat, jangan dipaksa diungkap dalam sebuah kalimat. Kalimat (3) berisi gagasan yang tidak dapat diungkap dalam sebuah kalimat. Untuk itu, kalimat (3) perlu  dipecah sebagaimana tertera pada kalimat (4).
(5)          Pendidikan teknologi perlu  dimulai dan digalakkan untuk segenap lapisan masyarakat. Sehingga masyarakat tidak buta teknologi, termasuk di dalamnya teknologi mutakhir.
(6)          Pendidikan teknologi perlu  dimulai dan digalakkan untuk seganap lapisan masyarakat sehingga masyarakat tidak buta teknologi,  termasuk di dalamnya teknologi mutakhir.
Contoh (5) berikut  merupakan contoh pengungkapan gagasan yang salah. Gagasan pada contoh (5) seharusnya diungkap sebagaimana contoh (6).

3.        Menghindari Kalimat Fragmentaris
Bahasa Indonesia ragam ilmiah juga menghindari penggunaan kalimat fragmentaris.Kalimat fragmentaris adalah kalimat yang belum selesai. Kalimat terjadi antara lain karena adannya keinginan penulis menggunakan gagasan dalam beberapa kalimat tanpa menyadari kesatuan gagasan yang diungkapkan.
Perhatikan  contoh kalimat fragmentaris di bawah ini!

4.         Bertolak dari Gagasan
Bahasa ilmiah digunakan dengan orientasi gagasan. Bahasa Indonesia ragam ilmiah mempunyai sifat bertolak dari gagasan. Artinya, penonjolan diadakan pada gagasan atau hal yang diungkapkan dan tidak pada penulis. Implikasinya, kalimat-kalimat yang digunakan didominasi oleh kalimat pasif sehingga kalimat aktif dengan penulis sebagai pelaku perlu dihindari.
Perhatikan  contoh kalimat bertolak dari gagasan di bawah ini!
(1)          Dari uraian tadi penulis dapat menyimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.
(2)          Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.
Contoh kalimat (1) beroriantasi pada penulis. Hal itu tampak pada pemilihan kata penulis (yang menjadi sentral) pada kalimat tersebut. Contoh (2) berorientasi pada gagasan dengan  menyembunyikan kehadiran penulis. Untuk menghindari hadirnya pelaku dalam paparan, disarankan menggunakan kalimat pasif. Orientasi pelaku yang bukan penulis yang tidak berorientasi pada gagasan juga perlu  dihindari. Oleh sebab  itu, paparan yang melibatkan pembaca dalam kalimat perlu  dihindari.
Perhatikan  contoh kalimat di bawah ini!
(3)          Kita tahu bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam pananaman moral Pancasila.
(4)          Perlu  diketahui bahwa pandidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam pananaman moral Pancasila.
Contoh (3) merupakan penyempurnaan dari contoh (4) yang berorientasi pada pelaku bukan penulis. Dari Contoh-contoh di atas, bukan berarti bahwa kalimat aktif tidak boleh digunakan dalam karangan ilmiah. Kalimat aktif yang berorientasi pada gagasan dapat digunakan sebagaimana contoh berikut.
(5)          Soedjito (1998) menyatakan bahwa yang paling berpengaruh pada mutu proses balajar mengajar adalah sistem penilaian.
(6)          Perkembangan teknologi komputer berjalan sangat cepat.

5.        Formal
Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah bersifat formal. Tingkat keformalan bahasa dalam tulisan ilmiah dapat dilihat pada kosa kata, bentukan kata, dan kalimat. Bentukan kata yang formal adalah bentukan kata yang lengkap dan utuh sesuai dengan aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Kalimat formal dalam tulisan ilmiah dicirikan oleh kelengkapan unsur wajib (subyek dan predikat), ketepatan penggunaan kata fungsi atau kata tugas, kebernalaran isi, dan tampilan esei formal.
Perhatikan  contoh di bawah ini!
(1)          Kata Formal                                    (2)        Kata Informal
Berkata                                                       Bilang
Membuat                                                    Bikin
Hanya                                                         Cuma
Memberi                                                     Kasi
Bagi                                                            Buat
Daripada                                                     Ketimbang
Artikel ilmiah termasuk kategori paparan yang bersifat teknis. Kosa kata yang digunakan cenderung mengarah pada kosa kata ilmiah teknis. Kosa kata ilmiah teknis digunakan pada kalangan khusus, yang jarang dipahami oleh masyarakat umum. Untuk itu, dalam memilih kosa kata dalam menulis artikel ilmiah, perlu kecermatan agar tidak mengarah pada kata ilmiah populer. Contoh berikut ini menunjukkan perbedaan kedua jenis kosa kata tersebut.
(3)          Kata Ilmiah Teknis                         (4)        Kata Ilmiah Populer
Anarki                                                         Kekacauan
Antipati                                                      Rasa benci
Antisipasi                                                    Perhitungan ke depan
Argumen                                                     Bukti
Ciri formal bahasa tulis ilmiah juga tampak pada bentukan kata. Bentukan kata yang formal adalah bentukan kata yang lengkap dan utuh sesuai dengan aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Bentukan kata yang tidak formal pada umumnya terjadi karena pemberian imbuhan yang tidak lengkap, proses pembentukannya tidak mengikuti aturan, atau karena proses pembentukannya mengikuti bahasa lain sebagaimana contoh berikut. 
(5)     Bentukan Kata Bernada Formal                 (6)        Bentukan Kata Bernada Informal
Membaca                                                                Baca
Menulis                                                                   Nulis
Tertabrak                                                                Ketabrak
Mencuci                                                                  Nyuci
Mendapat                                                               Dapat
Terbentuk                                                               Kebentur
Keformalan kalimat dalam artikei ilmiah ditandai oleh :
1.         Kelengkapan unsur wajib (subjek dan predikat),
2.         Ketepatan panggunaan kata fungsi atau kata tugas,
3.         Kebernalaran isi, dan
4.         Tampilan esai formal. Sebuah kalimat dalam artikel  ilmiah satidak-tidaknya memiliki subjek dan predikat.
Perhatikan  contoh di bawah ini!

(7)          Menurut Valendika (1999) menyatakan bahwa milenium ketiga belum  dimulai tahun 2000.
(8)          Valendika (1999) menyatakan bahwa milenium ketiga belum dimulai. tahun 2000.

Contoh (7) tidak jelas  subjeknya. Siapa yang menyatakan bahwa milenium ketiga belum dimulai tahun 2000 ? Tentu jawabannya bukan menurut Valendika, tetapi Valendika sebagaimana tertuang dalam contoh (8).
Ciri kedua penulisan  kalimat dalam artikel  ilmiah adalah ketepatan panggunaan kata fungsi atau kata tugas. Setiap  kata tugas memiliki fungsi yang berbeda. Oleh sebab  itu, ketapatan pamakaian kata tugas dalam menulis artikel ilmiah perlu mendapat perhatian. Kata tugas pada contoh (9) berikut  digunakan secara tidak tepat, sedangkan kata tugas pada contoh (10) digunakan secara tepat.

(9)          Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian pada masyarakat.
Saluran irigasi merupakan hal yang sangat vital buat patani.
(10)      Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.
Saluran irigasi merupakan hal yang sangat vital bagi petani.

Ciri ketiga penulisan  kalimat artikel ilmiah adalah kebernalaran isi. Isi kalimat dapat diterima nalar (akal) sehat.Sebuah kalimat dapat dikatakan memiliki kebernalaran isi apabila gagasan yang disampaikan dapat dinalarkan (dapat ditarima akal sehat) dan hubungan antargagasan dalam kalimat dapat diterima akal sahat (Supamo, dkk, 1998).
Perhatikan  gagasan yang disampaikan pada contoh berikut !

(11)      Berbagai temuan baru berhasil diungkap dalam penelitian ini.
(12)      Penelitian ini berhasil mengungkap berbagai temuan baru 
lsi kalimat (11) tidak bisa diterima akal. Siapa yang barhasil dalam kalimat itu ? Menurut kalimat itu, yang berhasil adalah berbagai temuan baru itu tidak masuk akal.Berbagai temuan baru tentu tidak bisa berhasil.Yang mungkin barhasil adalah penelitian ini sebagaimana contoh (12).
Perhatikan  hubungan antargagasan dalam kalimat berikut!

(13)      Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan pokok bahasan lain, yaitu seperti membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, maupun apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
(14)      Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan kedudukan pengajaran yang lain: membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, dan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Contoh (14) telah mampu mengungkapkan penataran dengan  benar, berbeda dengan  contoh (13). Hubungan penidaksamaan pengajaran berbicara dan pokok bahasan lain tidak selaras. Penidaksamaan seharusnya dilakukan antara pengajaran dengan pengajaran, bukan dengan yang lain.
Ciri ketiga kalimat artikel  ilmiah adalah tampilan esai formal. Cara itu menuntut pengungkapan gagasan dilakukan secara utuh dalam bentuk kalimat.Rincian gagasan atau potongan gagasan dalam kalimat diintegrasikan secara langsung dalam kalimat. Kalimat (15) berikut  bukan merupakan tampilan esai formal, sedangkan kalimaf (16) merupakan kalimat yang bertampilan esai formal yang dianjurkan digunakan dalam artikel  ilmiah.
(15)  Jenis dongeng berdasarkan isinya:
-          Fable
-          Legenda
-          Mite
-          Sage
(16)      Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas empat kategori, yakni:
-          Fable
-          Legenda
-          Mite
-          Sage

6.        Objektif
Bahasa ilmiah barsifat objektif. Untuk itu, upaya yang dapat ditempuh adalah menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak pengembangan kalimat dan menggunakan kata dan struktur kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara objektif. Terwujudnya sifat objektif tidak cukup dengan  hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Sifat objektif juga diwujudkan dalam panggunaan kata. Kata-kata yang menunjukkan sifat subjektif tidak digunakan.
Perhatikan contoh kalimat objektif berikut ini !

(1)          Contoh-Contoh itu telah memberikan bukti betapa besarnya peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan sebagai berikut.
(2)          Contoh-Contoh itu telah memberikan bukti besarnya peranan oraug tua dalam pembemtukan kepribadian anak. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.
Hadirnya kata betapa dan kiranya pada contoh (1)  menimbulkan sifat subjektif. Berbeda dengan  contoh (2) yang tidak mengandung unsur subjektif.
(3)          Abstrak artikel harus ditulis dalam sebuah paragraf.
Penelitian pasti diawali adanya masalah.
(4)          Abstrak artikel ditulis dalam sebuah paragraph.
Penelitian diawali adanya masalah.
Kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrim dapat memberi kesan subjektif dan emosional. Kata-kata seperti harus, wajib, tidak mungkin tidak, pasti, dan selalu perlu dihindari. Penulisan  kalimat (3) berikut  perlu dihindari karena  barsifat subjektif/emosional. Penulisan  kalimat yang tidak subjektif tampak pada contoh (4).
7.        Ringkas dan Padat
Sifat ringkas dan padat direalisasikan dengan tidak adanya unsur-unsur bahasa yang mubazir. Itu berarti menuntut adanya penggunaan bahasa yang hemat. Ciri padat merujuk pada kandungan gagasan yang diungkapkan dengan unsur-unsur bahasa. Karena itu, jika gagasan yang terungkap sudah memadai dengan unsur bahasa yang terbatas tanpa pemborosan, ciri kepadatan sudah terpenuhi.Keringkasan dan kepadatan penggunaan bahasa tulis ilmiah juga ditandai dengan tidak adanya kalimat atau paragraf yang berlebihan dalam tulisan ilmiah.
Perhatikan contoh kalimat ringkas dan padat berikut ini !

(1)          Nilai etis di atas menjadi pedoman bagi setiap  warga negara Indonesia.
(2)          Nilai etis sebagaimana tersebut pada paparan di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup dan kehidupan bagi setiap warg/a negara Indonesia.
Contoh (1) berikut  termasuk bahasa ilmiah yang ringkas/padat, sedangkan contoh (2) adalah bahasa yang tidak ringkas. Hadirnya kata sebagaimana tersebut pada paparan dan kata dan dasar pegangan hidup dan kehidupan pada kalimat (2) tidak memberi tambahan makna yang berarti.Dengan  demikian,  hadirnya kata-kata tersebut mubazir.
(3)          Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terungkap bahwa proyek itu telah dilaksanakan sesuai dengan  aturan yang berlaku. Jadi, tidak ada pelaksanaan proyek yang menyalahi aturan.Artinya, pelaksanaan proyek itu sudah benar.Isu negatif yang selama ini berkembang tidak benar.
(4)          Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terungkap bahwa proyek itu telah dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku.  Isu nagatif yang selama ini berkembang tidak benar.
Keringkasan dan kepadatan panggunaan bahasa tulis ilmiah tidak hanya ditandai dengan  tidak adanya kata-kata yang berlebihan, tetapi juga ditandai dengan  tidak adanya kalimat atau paragraf yang berlebihan dalam artikel  ilmiah. Contoh (3) dan (4) berikut  dapat memperjelas  keringkasan dan kepadatan bahasa tulis ilmiah. Hadirnya kalimat yang dicetak miring pada contoh (3) tidak memberi tambahan makna yang berarti.Dengan  demikian, kalimat itu perlu  dibuang sebagaimana contoh (4).

8.        Konsisten
Unsur bahasa dan ejaan dalam bahasa tulis ilmiah digunakan secara konsisten. Sekali sebuah unsur bahasa, tanda baca, tanda-tanda lain, dan istilah digunakan sesuai dengan  kaidah, itu semua selanjutnya digunakan secara konsisten. Sebagai contoh, kata tugas untuk digunakan untuk mengantarkan tujuan dan kata tugas bagi mengantarkan objek (Suparno, 1998). Selain itu, apabila pada bagian awal uraian telah terdapat singkatan SMP (Sekolah Menengah Pertama), pada uraian selanjutnya digunakan singkatan SMP tersebut.
Perhatikan contoh kalimat konsisten berikut ini !

(1)          Untuk mengatasi penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran, pengusaha angkutan dihimbau mengoperasikan, semua kendaraan ekstra.
Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagimuslim Bosnia. Bagi mereka yang penting adalah pen
cabutan embargo persenjataan.
(2)          Untuk penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran, telah disiapkan kendaraan yang eukup. Pengusaha angkutan dihimbau mengoperasikan semua kendaraan ekstra. Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Untuk mereka yang penting adalah peneabutan embargo persenjataan.
Contoh (2) tidak konsisten dengan  kaidah yang berlaku. Sementara itu, contoh yang konsisten adalah contoh (1).




DOWNLOAD FILE KLIK DISINI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar